Taukah rekan-rekan tentang siapa kah itu otter?
Ada apakah dengan otter ?
Bagaimanakah keadaannya ?
Apakah dia masih ada di Bumi ini ?
Pertanyaan – pertanyaan itu merupakan hal yang tidak menjadi perhatian penting bagi seorang insinyur, apalagi bagi seorang elektrikal. Tapi jangan kaget jika saya, seorang insinyur elektro, ingin sedikit menulis sesuatu tentang otter, sekaligus sebagai sosialisasi tugas kuliah kesehatan lingkungan..
Kita awali dengan “siapakah otter itu?” Otter adalah salah satu makhluk ciptaan Tuhan, berkelas mamalia, berhabitat semiakuatik dan makanan kesukaannya adalah ikan. Taksonominya, Kingdom: Animalia ; Phylum: Chordata; Class: Mammalia; Order: Carnivora; Family: Mustelidae; Subfamily: Lutrinae.

bila kita lihat dan mencermati lagi, otter adalah binatang yang biasa kita kenal dengan berang-berang yang hidup di air (sungai).
Setelah kita tahu tentang jati diri dari otter, pertanyaan selanjutnya adalah “ada apa dengan otter ?”. Otter adalah hewan yang terancam punah dari permukaan bumi. Terancam punah sejak abad 19, entah sekarang keberadaannya masih ada tau tidak.
Sejak jaman dahulu otter sudah diburu untuk diambil bulunya sebagai bahan utama pembuatan mantel, pakaian dan busana-busana yang trend pada jaman itu. Bulunya lembut dan indah membuat permintaan akan bahan makin meningkat sehingga perburuan terhadap otter menjadi membabi buta. Sir Edwin Landseer, seorang seniman, melimpahkan rasa keprihatinan terhadap perburuan otter yang berlebih kemudia dengan kritikannya melaui lukidan pada sebuah kanvas. Lukisan dengan cat minyak menggambarkan seorang pemburu dengan ajing-anjingnya menangkap seekor otter.

Lukisan ini sangat terkenal di dunia pada jaman itu sebagai bentuk protes terhadap perburuan otter.
Namun, usaha yang dilakukan Sir Edwin Landse tidak memberikan efek yang signifikan tentang perburuan. Di Inggris, perburuan otter merupakan sebuah kebiasaan yang sudah membudaya dari turun temurun. Di akhir pekan musim perburuan otter, mereka telah menyiapkan berbagai peralatan lengkap perburuan beserta anjing-anjing pelacaknya. Mereka berburu tidak hanya puas dengan satu ekor atau 3 ekor tapi langsung menuju pada sarang utama dari ekor. Perburuan semacam ini memang tidak jauh beda dengan perburuan liar tanpa aturan. Dengan menyerang sarang langsung, mereka akan mendapatkan berpuluh-puluh ekor otter. Apalagi perburuan dilakukan tidak oleh satu orang saja dan dilakukan membudaya turun-menurun. Bisa dilihat, hal ini akan berakibat fatal terganggunya keberlangsungan hidup jenis otter di suatu daerah.
Pada dekade akhir, para pemburu mulai sulit menemukan keberadaan berang-berang. Bahkan di beberapa daerah, berang-berang tidak ditemukan sama sekali tanpa alasan yang jelas. Selain pemburu, beberapa orang juga menyadari bahwa hewan nokturnal (hewan malam) telah hilang dari habitatnya yang tak lain juga merupakan habitat otter yaitu sungai.
Setelah dua dekade berikutnya, para ahli konservasi melakukan studi penelitian atas hilangnya popolasi otter. Selama berbulan-bulan mereka terus mengadakan studi sampai mereka menemukan sebuah catatan rekor perburuan. Setelah menganalisis catatan tersebut dan dihubungkan dengan kondisi-kondisi saat itu, para ahli konservasi tersebut menulis sebuah tulisan sebagai laporan studi penelitian dengan menyimpulkan bahwa otter hilang karena perburuan.
Selama selang beberapa waktu, ada beberapa dugaan lain muncul. Hilangnya otter dan hewan nokturnal dikarenakan adanya maraknya penggunaan Pestisida Dieldrin untuk keperluan pertanian. Dugaan ini baru resmi benar setelah pada tahun 1980-an para peneliti Inggris menganalisis dampak penggunanaan pestisida dieldrin yang terjadi hampir di seluruh Eropa. Pestisida dieldrin merupakan senyawa sejenis DDT yang bersifat persisten (terurai dalam waktu yang lama). Senyawa ini terkenal dengan sifatnya yang toksik. Senyawa ini berdampak pada makhluk hidup dalam tingkat penyerapan tubuh terhadap vitamin A yang akan menganggu sistem penginderaan. Senyawa tersebut ketika digunakan dengan tujuan untuk melindungi tanaman dari serangan hama ataupun gulma. Namun ketika senyawa itu digunakan/disemprotkan sebagian dari senyawa tersebut akan terbawa melalui sistem saluran irigasi dan kemudian bercampur dengan aliran sungai. Hal ini akan membuat sungai tercemar termasuk biota-biota yang di dalamnya dan yang bergantung pada sungai dalam hal ini otter, ikan dan hewan-hewan nokturnal.
Ketika senyawa toksik tersebut masuk ke dalam ikan dan akan mengalami bioakumulasi dan biomagnifikasi yang kemudian akan sampai menyerang otter. Ketika otter telah terkontaminasi maka sistem penginderan otter akan terganggu bahkan akan mengalami kebutaan. Dengan keadaan otter yang seperti itu, dijamin otter tidak dapat melanjutkan kehidupannya sampai kegenerasi berikutnya.
Akhirnya pada tahun 1989, senyawa Pestisida Dieldrin dilarang penggunaannya.
One Response to Otters, where are you ?